Takut Filler Bikin Wajah Penuh? Kenali Face Contouring
Belakangan ini, filler wajah banyak menjadi perbincangan. Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul adalah wajah jadi terlalu penuh, terlihat bengkak seperti bantal atau yang sering disebut pillow face , atau justru kehilangan bentuk alaminya setelah melakukan filler.
Belakangan ini, filler wajah banyak menjadi perbincangan. Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul adalah wajah jadi terlalu penuh, terlihat bengkak seperti bantal atau yang sering disebut pillow face, atau justru kehilangan bentuk alaminya setelah melakukan filler.
Kekhawatiran seperti ini wajar. Namun, ada hal penting yang perlu diketahui: Dermal Filler tidak selalu digunakan hanya untuk menambah volume pada wajah.
Dalam dunia estetika medis, filler juga dapat digunakan untuk face contouring, yaitu bantu membentuk dan mempertegas kontur wajah pada titik-titik tertentu.
Dan semuanya seharusnya dimulai bukan dari pertanyaan:
“Mau pakai berapa cc filler?”
Melainkan:
“Apa yang sebenarnya ingin diperbaiki dari wajah ini?”
Inilah salah satu prinsip penting dalam face assessment.
Filler Tidak Selalu Membuat Wajah Lebih Penuh
Mendengar kata filler, kita mungkin langsung membayangkan sesuatu yang digunakan untuk “mengisi”.
Misalnya pipi cekung diisi, smile line diisi, atau bagian wajah yang terlihat kurang penuh kemudian ditambahkan filler.
Padahal, tidak sesederhana itu.
Bentuk wajah kita ditentukan oleh banyak hal, mulai dari tulang, otot, jaringan lemak, ligamen, hingga kulit. Perubahan pada salah satu bagian tersebut juga dapat memengaruhi tampilan bagian wajah lainnya.
Karena itu, penggunaan filler untuk face contouring tidak dilakukan dengan hanya melihat satu area wajah yang ingin diubah.
Dokter perlu melihat wajah secara keseluruhan.
Apa Itu Face Contouring dengan Dermal Filler?
Face contouring dengan dermal filler adalah penggunaan filler pada titik-titik tertentu untuk bantu memperbaiki proporsi, memberikan support, serta mempertegas kontur wajah.
Contohnya, pada pasien yang sesuai, filler dapat digunakan untuk membantu mempertegas cheekbone, memperbaiki bentuk dan projection dagu, membuat jawline terlihat lebih terdefinisi, atau memberikan support pada area tengah wajah.
Tujuannya bukan sekadar membuat wajah lebih besar atau lebih penuh, tetapi membantu wajah terlihat lebih fresh, lebih terangkat, lebih muda, lebih terdefinisi, atau pada kasus tertentu memberikan kesan wajah yang lebih slim.
Pada face contouring, perubahan yang terukur pada titik yang tepat dapat memberikan pengaruh terhadap proporsi dan tampilan wajah secara keseluruhan.
Face Contouring Dimulai dari Analisis Wajah
Sebelum menentukan titik penyuntikan, dokter perlu melihat bentuk dan struktur wajah pasien.
Wajah dinilai dari depan, sudut 45 derajat, hingga dari samping. Dokter kemudian melihat antara berbagai bagian wajah.
Bagaimana bentuk cheekbone? Apakah dagu memiliki projection yang cukup? Bagaimana hubungan dagu dengan hidung dan bibir jika dilihat dari samping? Bagaimana bentuk jawline? Apakah bagian tengah dan bawah wajah terlihat seimbang?
Dari sinilah treatment plan dibuat, layaknya seorang arsitek merancang sebuah rumah: bukan hanya agar terlihat indah, tetapi juga memiliki fondasi dan proporsi yang baik.
Wajah Ibarat Sebuah Rumah: Foundation, Contour, Refinement
Dalam konsep MD Codes™, perencanaan treatment dapat dipahami melalui tiga bagian: Foundation, Contour, dan Refinement.
Foundation adalah fondasinya. Salah satu area penting adalah cheek atau cheekbone yang bantu memberikan support pada bagian tengah wajah.
Setelah fondasinya dinilai, dokter melihat Contour, yaitu bentuk utama wajah. Area seperti pelipis, dagu, dan jawline dapat dievaluasi untuk membentuk proporsi wajah.
Barulah masuk ke Refinement, yaitu sentuhan akhir pada detail seperti area bawah mata, smile line, bibir, dan area lainnya sesuai kebutuhan.
Sederhananya:
Bangun fondasinya. Bentuk konturnya. Baru sempurnakan detailnya.
Tujuannya agar dokter tidak langsung mengejar setiap garis atau cekungan dengan filler, tetapi melihat apa yang sebenarnya perlu diperbaiki agar keseluruhan wajah terlihat lebih harmonis.
Mengenal MD Codes™ dari Dr. Maurício de Maio
Salah satu konsep face assessment dan penggunaan dermal filler yang dikenal dalam dunia estetika adalah MD Codes™, yang dikembangkan oleh Dr. Maurício de Maio, seorang plastic surgeon dari Brasil.
MD Codes bukan hanya teknik untuk menentukan “Di mana filler harus disuntikkan”.
Konsep ini membagi wajah menjadi berbagai titik berdasarkan anatomi. Pada masing-masing titik terdapat pertimbangan mengenai tujuan treatment, kedalaman penyuntikan, teknik yang digunakan, serta jumlah filler.
Artinya, dokter tidak hanya melihat:
“Di sini cekung, berarti harus diisi.”
Tetapi juga mempertimbangkan:
“Apa yang membuat wajah ini terlihat kurang seimbang, dan bagian mana yang sebaiknya diperbaiki terlebih dahulu?”
Karena bagian wajah yang dikeluhkan pasien belum tentu menjadi bagian pertama yang perlu ditreatment.
Tidak Selalu Area yang Dikeluhkan Harus Langsung Diisi
Misalnya seseorang datang karena merasa smile line-nya semakin terlihat. Solusinya belum tentu langsung menambahkan filler pada smile line. Dokter perlu melihat bagian tengah wajah dan support jaringan di sekitarnya terlebih dahulu.Begitu juga ketika seseorang mengeluhkan area bawah mata yang terlihat cekung. Belum tentu langkah pertama adalah langsung menambahkan filler pada tear trough.
Karena itu, yang terlihat sebagai masalah belum tentu merupakan sumber utama masalahnya. Dokter perlu melihat fondasi dan bentuk wajah terlebih dahulu, kemudian menentukan bagian tertentu masih membutuhkan treatment.
Filler Tidak Selalu Ditempatkan Tepat di Bawah Kulit
Wajah mempunyai beberapa lapisan. Tergantung area dan tujuan treatment, dokter dapat memilih kedalaman penyuntikan yang berbeda.
Pada titik tertentu, filler dapat ditempatkan pada lapisan yang lebih dalam, termasuk dekat permukaan tulang, untuk membantu memberikan support dan projection.
Filler tidak disuntikkan ke dalam tulang.
Pada area lain, filler dapat ditempatkan pada lapisan yang berbeda sesuai kebutuhan.
Karena itu, teknik untuk membentuk cheekbone belum tentu sama dengan teknik untuk chin, jawline, bibir, atau area bawah mata.
Titiknya berbeda. Kedalamannya berbeda. Produknya dapat berbeda. Tujuannya pun berbeda.
Face Contouring adalah Perpaduan Science, Skill, dan Sense of Art
Face contouring bukan hanya soal menguasai teknik penyuntikan.
Setiap wajah memiliki bentuk, proporsi, dan karakter yang berbeda. Karena itu, dokter juga membutuhkan kemampuan untuk melihat keseimbangan dan keindahan sebuah wajah.
Face contouring bisa dianalogikan seperti menciptakan sebuah karya seni. Memiliki bahan berkualitas saja belum tentu menghasilkan karya yang indah. Begitu juga dengan filler.
Filler adalah materialnya. Anatomi adalah dasarnya. Skill adalah cara mengerjakannya. Sense of art membantu dokter melihat proporsi dan harmoni wajah.
Tujuannya bukan membuat semua pasien mempunyai bentuk wajah yang sama.
Justru sebaliknya: mempertahankan karakter wajah masing-masing sambil membantu membuat proporsinya lebih harmonis.
dr. Nanang Masrani dan Tim GLOSKIN Belajar Langsung dari Dr. Maurício de Maio
Konsep face contouring berbasis anatomi ini juga menjadi bagian dari perjalanan pembelajaran dr. Nanang Masrani dan tim dokter GLOSKIN.
dr. Nanang Masrani bersama tim GLOSKIN mempelajari langsung konsep dan teknik facial contouring dari Dr. Maurício de Maio, pengembang MD Codes™.
Pembelajaran ini ikut membentuk cara GLOSKIN melakukan treatment dengan dermal filler: bukan sekadar melihat bagian mana yang bisa “diisi”, tetapi memahami wajah secara keseluruhan dan menentukan prioritas treatment berdasarkan struktur serta proporsi wajah.
Lebih Banyak Filler Belum Tentu Lebih Baik
Jumlah filler yang lebih banyak tidak otomatis menghasilkan wajah yang lebih baik. Yang lebih penting adalah di mana filler ditempatkan, seberapa dalam, berapa banyak yang diperlukan, produk apa yang digunakan, dan apa tujuan treatment-nya.
Pada beberapa pasien, treatment pada titik yang tepat dapat memberikan perubahan pada proporsi wajah tanpa harus menambahkan filler pada banyak area.
Karena itu, fokusnya bukan sekadar pada jumlah filler yang digunakan, tetapi pada bagian mana yang memang perlu diperbaiki agar wajah terlihat lebih proporsional.
Apakah Face Contouring dengan Filler Bisa Terlihat Natural?
Targetnya adalah perubahan yang tetap menyatu dengan karakter wajah pasien. Natural bukan berarti tidak ada perubahan. Wajah dapat terlihat lebih fresh, lebih terdefinisi, lebih proporsional, atau lebih terangkat, tetapi tetap terasa sebagai wajah Anda sendiri.
Karena itulah Face Contouring di GLOSKIN tidak bertujuan membuat semua pasien memiliki cheekbone, dagu, atau jawline yang sama.
Setiap wajah memiliki desainnya sendiri.
Apakah Face Contouring dengan Dermal Filler Aman?
Dermal filler tetap merupakan tindakan medis dan memiliki risiko.
Setelah treatment dapat terjadi bengkak, kemerahan, memar, atau rasa tidak nyaman. Terdapat pula komplikasi yang lebih jarang tetapi serius, termasuk komplikasi yang berkaitan dengan pembuluh darah.
Karena itu, advanced technique bukan berarti bebas risiko.
Pengetahuan anatomi, pemilihan produk, teknik penyuntikan, serta kemampuan dokter mengenali dan menangani komplikasi tetap menjadi bagian penting dalam treatment.
Face Contouring dengan Dermal Filler di GLOSKIN
Di GLOSKIN, semuanya dimulai dari face assessment.
Dokter melihat wajah secara keseluruhan sebelum menentukan titik penyuntikan, kedalaman, jenis filler, teknik, dan jumlah produk yang sesuai.
Prinsipnya sederhana:
ASSESS → FOUNDATION → CONTOUR → REFINEMENT
Bukan sekadar mengisi bagian yang kosong, tetapi merancang treatment berdasarkan struktur dan proporsi wajah secara keseluruhan.
Karena tujuan Face Contouring di GLOSKIN bukan membuat wajah terlihat “penuh filler”.
Tujuannya adalah membantu membentuk wajah yang lebih proporsional, lebih terdefinisi, dan tetap menjadi versi alami dari diri Anda sendiri.
Referensi Ilmiah
- de Maio M. MD Codes™: A Methodological Approach to Facial Aesthetic Treatment with Injectable Hyaluronic Acid Fillers. Aesthetic Plastic Surgery. 2021;45(2):690–709.
- de Maio M. The 7-point Shape and The 9-point Shape: An Innovative Nonsurgical Approach to Improve the Facial Shape. Facial Plastic Surgery. 2022;38(2):102–110.
- de Maio M, et al. Multi-Dimensional Aesthetic Scan Assessment (MD ASA™): Initial Experience with a Novel Systematic, Objective Approach to Facial Assessment. Journal of Cosmetic Dermatology. 2021.
- de Maio M, Wu WTL, Goodman GJ, Monheit G. Facial Assessment and Injection Guide for Botulinum Toxin and Injectable Hyaluronic Acid Fillers: Focus on the Lower Face. Plastic and Reconstructive Surgery. 2017;140(3):393e–404e.
Diskusi
Komentar & Pertanyaan
Bagikan komentar atau pertanyaan Anda tentang artikel ini.
