Botox Therapy for Migraine: How Does It Work and Who Can Get It?
Frequent migraines can be very disruptive. Headaches can last for hours, come with nausea and sensitivity to light or sound, and get in the way of daily activities.
Migrain yang sering kambuh bisa sangat mengganggu. Nyeri kepala bisa berlangsung berjam-jam, disertai mual, sensitif terhadap cahaya atau suara, dan membuat aktivitas sehari-hari ikut terganggu.
Pada orang yang mengalami migrain kronis, salah satu pilihan terapi pencegahan yang telah banyak diteliti adalah BOTOX® (onabotulinumtoxinA). BOTOX yang digunakan untuk terapi migrain memiliki tujuan yang berbeda dengan penggunaan untuk estetika. Pada migrain, target utamanya adalah membantu mengurangi frekuensi dan dampak sakit kepala.
Bagaimana BOTOX Bekerja untuk Migrain?
Migrain berhubungan dengan aktivitas sistem saraf yang menghantarkan sinyal nyeri dari kepala dan leher menuju otak. OnabotulinumtoxinA bekerja pada ujung saraf dengan menghambat pelepasan beberapa zat yang berperan dalam proses nyeri, seperti CGRP (calcitonin gene-related peptide), substance P, dan glutamate.
Efek ini dapat mengurangi aktivitas ujung saraf sensorik dan menurunkan sinyal nyeri yang diteruskan menuju sistem saraf pusat. Jadi, manfaat BOTOX pada migrain tidak hanya berasal dari efek relaksasi otot.
Siapa yang Bisa Mendapatkan Terapi BOTOX untuk Migrain?
Evidence terkuat penggunaan onabotulinumtoxinA adalah untuk migrain kronis (chronic migraine).
Karena sakit kepala memiliki banyak penyebab, seseorang yang sering mengalami sakit kepala sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya membutuhkan BOTOX.
Dokter perlu mengevaluasi frekuensi sakit kepala, karakter nyeri, gejala yang menyertai, obat yang digunakan, serta riwayat migrain sebelumnya. Tujuannya adalah memastikan terapi yang diberikan memang sesuai dengan kondisi pasien.
Di Mana BOTOX untuk Migrain Disuntikkan?
Teknik yang paling banyak diteliti dikenal sebagai PREEMPT Protocol.
Dalam protokol standar, 155 unit onabotulinumtoxinA diberikan pada 31 titik di tujuh kelompok otot kepala dan leher. Area tersebut meliputi:
- Sekitar alis (corrugator),
- Antara alis (procerus),
- Dahi (frontalis),
- Pelipis (temporalis),
- Belakang kepala (occipitalis),
- Belakang leher (cervical paraspinal), dan
- Leher hingga bahu (trapezius).
Pada kondisi tertentu, dokter dapat menambahkan titik berdasarkan pola nyeri atau follow-the-pain. Dalam PREEMPT, total dosis dapat mencapai 195 unit pada 31–39 titik. Guideline European Headache Federation juga merekomendasikan pemberian 155–195 unit menggunakan protokol PREEMPT dengan interval sekitar 12 minggu.
Mengapa Suntikannya Sampai ke Belakang Kepala, Leher, dan Bahu?
Ini salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul.
Migrain tidak hanya berhubungan dengan area dahi atau pelipis yang terasa sakit. Sistem nyeri migrain juga melibatkan saraf trigeminal dan saraf sensorik dari area cervical atau leher.
Ujung saraf tersebut tersebar di berbagai jaringan kepala dan leher. Dengan menghambat aktivitas ujung saraf sensorik tertentu, onabotulinumtoxinA dapat mengurangi jumlah sinyal nyeri yang diteruskan menuju otak. Itulah sebabnya titik terapi migrain dapat tersebar mulai dari dahi sampai bahu.
Apakah Titik BOTOX Migrain Sama untuk Semua Orang?

PREEMPT menjadi dasar karena protokol inilah yang memiliki evidence klinis kuat.
Namun dokter tetap perlu memperhatikan anatomi dan pola keluhan setiap pasien. Ada pasien yang merasakan keluhan lebih dominan di sekitar alis dan dahi, sementara pasien lain lebih banyak mengalami nyeri di belakang kepala, leher, atau bahu.
Dalam protokol PREEMPT terdapat konsep follow-the-pain, yaitu tambahan dosis pada area tertentu sesuai pola nyeri. Tetapi penyesuaian terapi tetap harus mempertimbangkan protokol, anatomi, respons terapi sebelumnya, serta risiko efek samping.
Karena itu, pemetaan pola migrain sebelum tindakan menjadi bagian penting dari konsultasi.
Seberapa Efektif BOTOX untuk Migrain Kronis?
Efektivitas onabotulinumtoxinA diteliti dalam program klinis besar PREEMPT 1 dan PREEMPT 2.
Analisis gabungan terhadap 1.384 orang dewasa dengan migrain kronis menunjukkan bahwa setelah 24 minggu, jumlah hari sakit kepala berkurang rata-rata sekitar 8,4 hari dibanding kondisi awal pada kelompok yang mendapatkan onabotulinumtoxinA. Pada kelompok placebo, penurunannya sekitar 6,6 hari. Perbedaannya secara statistik signifikan.
Penelitian lanjutan selama 56 minggu juga menunjukkan perbaikan berkelanjutan pada jumlah hari sakit kepala, hari migrain, dan hari dengan sakit kepala sedang hingga berat pada pasien yang menjalani terapi berulang.
Namun hasil setiap orang dapat berbeda. Target terapi tidak selalu berarti migrain harus hilang 100%, melainkan mengurangi frekuensi, intensitas, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Berapa Lama Sekali BOTOX Migrain Dilakukan?
Dalam protokol PREEMPT, terapi biasanya dilakukan dengan interval sekitar 12 minggu.
Respons kemudian dievaluasi dari satu siklus ke siklus berikutnya. Pasien dapat mencatat:
- Berapa hari mengalami sakit kepala dalam satu bulan,
- Seberapa berat serangannya,
- Berapa lama berlangsung, dan seberapa sering membutuhkan obat saat serangan.
Catatan sederhana atau headache diary ini sangat membantu dokter menilai respons terapi.
Apakah BOTOX Migrain Sama dengan BOTOX untuk Kerutan?
Zat yang digunakan dapat sama, tetapi tujuan, dosis, jumlah titik, dan teknik penyuntikannya berbeda.
BOTOX estetika biasanya ditujukan untuk mengatur aktivitas otot tertentu agar garis ekspresi berkurang. Sementara pada terapi migrain, penyuntikan dilakukan mengikuti peta anatomi kepala dan leher yang telah dipelajari dalam penelitian klinis.
Karena itu, terapi migrain membutuhkan penilaian pola sakit kepala sekaligus pemahaman mengenai anatomi dan teknik injeksi.
Apakah BOTOX Bisa Menyembuhkan Migrain?
BOTOX merupakan terapi pencegahan, bukan jaminan bahwa migrain akan hilang permanen.
Tujuannya adalah membantu pasien mengalami lebih sedikit hari sakit kepala dan mengurangi dampak migrain terhadap aktivitas serta kualitas hidup. Studi PREEMPT juga menemukan perbaikan pada ukuran dampak sakit kepala dan kualitas hidup pada pasien yang mendapat onabotulinumtoxinA.
Konsultasi Terapi Migrain dengan BOTOX di GLOSKIN
Bagi pasien yang mengalami migrain berulang atau sakit kepala yang semakin sering, langkah pertama adalah melakukan konsultasi dan evaluasi terlebih dahulu.
Dokter akan menilai pola sakit kepala, area yang sering terasa nyeri, riwayat terapi sebelumnya, anatomi kepala dan leher, serta menentukan apakah terapi migrain dengan BOTOX sesuai untuk kondisi pasien. Terapi kemudian dapat direncanakan secara terukur dengan tetap mengacu pada evidence ilmiah dan protokol terapi yang tersedia.
Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter GLOSKIN untuk mengetahui apakah terapi BOTOX untuk migrain sesuai dengan kondisi Sahabat.
Referensi ilmiah
Blumenfeld AM, dkk. Method of Injection of OnabotulinumtoxinA for Chronic Migraine: A Safe, Well-Tolerated, and Effective Treatment Paradigm Based on the PREEMPT Clinical Program. Headache. 2010.
Dodick DW, dkk. OnabotulinumtoxinA for Treatment of Chronic Migraine: Pooled Results From the PREEMPT Clinical Program. Headache. 2010.
Burstein R, dkk. Mechanism of Action of OnabotulinumtoxinA in Chronic Migraine: A Narrative Review. Headache. 2020.
Bendtsen L, dkk. Guideline on the Use of OnabotulinumtoxinA in Chronic Migraine: A Consensus Statement From the European Headache Federation. Journal of Headache and Pain. 2018.
Discussion
Comments & Questions
Share your comments or questions about this article.
