Lewati ke konten utama
Gloskin
ID
EN
Aesthetic

Acne: Penyebab, Derajat, Penanganan, dan Evaluasi Terapi

Acne vulgaris atau jerawat merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang terutama mengenai wajah, dada, dan punggung. Acne paling sering muncul pada remaja, tetapi dapat menetap atau baru muncul pada usia dewasa. Manifestasinya meliputi komedo, papul, pustul, nodul, hingga kista. Acne yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), post-inflammatory erythema (PIE), acne scar , serta dampak psikologis.

By dr. Florentina Aira Syaharani 3 menit baca

Acne vulgaris atau jerawat merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang terutama mengenai wajah, dada, dan punggung. Acne paling sering muncul pada remaja, tetapi dapat menetap atau baru muncul pada usia dewasa. Manifestasinya meliputi komedo, papul, pustul, nodul, hingga kista. Acne yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), post-inflammatory erythema (PIE), acne scar, serta dampak psikologis.

Derajat Acne

Secara klinis, acne dapat dikategorikan menjadi:

  • Ringan: dominan komedo dengan sedikit papul atau pustul.
  • Sedang: papul dan pustul lebih banyak, dengan komedo yang luas dan dapat disertai beberapa nodul.
  • Berat: lesi inflamasi dalam seperti banyak nodul/kista, acne conglobata, acne luas, atau acne dengan risiko tinggi menyebabkan scar.

Penilaian juga perlu mempertimbangkan lokasi, risiko scar, respons terapi sebelumnya, dan dampak terhadap kualitas hidup.

Penyebab dan Faktor Pemicu

Acne bersifat multifaktorial, dengan empat mekanisme utama: peningkatan produksi sebum, hiperkeratinisasi folikel yang menyebabkan sumbatan, perubahan mikrobioma terutama Cutibacterium acnes, dan inflamasi.

Faktor yang dapat memperburuk acne meliputi perubahan hormonal, stres, kurang tidur, oklusi atau gesekan, kosmetik/skincare yang tidak sesuai, serta obat-obatan tertentu. Pada perempuan dewasa, acne yang memburuk menjelang menstruasi atau dominan di area rahang/dagu dapat menunjukkan komponen hormonal. Kondisi penyakit tertentu dan penggunaan obat2an tertentu juga memicu acne.

Penanganan Acne

Tujuan terapi adalah mengontrol lesi aktif, mencegah lesi baru, PIH dan scar, serta mempertahankan remisi.

  • Terapi Topikal

Pada acne ringan hingga sebagian acne sedang, terapi topikal merupakan dasar pengobatan. Pilihan meliputi topical retinoid seperti adapalene atau tretinoin, benzoyl peroxide (BPO), dan azelaic acid. Antibiotik topikal seperti clindamycin dapat digunakan pada kondisi tertentu, tetapi tidak dianjurkan sebagai monoterapi karena risiko resistensi.

Kombinasi dengan mekanisme berbeda, seperti adapalene-BPO, dapat meningkatkan efektivitas terapi dan merupakan salah satu pilihan lini pertama.

  • Antibiotik Oral

Pada acne inflamasi sedang hingga berat, antibiotik oral seperti doxycycline dapat dipertimbangkan. Penggunaannya sebaiknya dikombinasikan dengan terapi topikal dan dibatasi durasinya untuk mengurangi risiko resistensi. Evaluasi umumnya dilakukan setelah sekitar 12 minggu.

  • Terapi Hormonal dan Isotretinoin

Pada perempuan dengan komponen hormonal, combined oral contraceptive atau spironolactone dapat dipertimbangkan setelah evaluasi klinis dan kontraindikasi.

Isotretinoin oral dapat dipertimbangkan pada acne berat, acne dengan risiko scar, dampak psikososial bermakna, atau acne yang tidak responsif terhadap terapi standar. Karena risiko efek samping, terutama teratogenisitas, terapi harus dilakukan di bawah pengawasan dokter dengan monitoring yang sesuai.

Treatment Tambahan dan Perawatan Kulit

Intralesional corticosteroid dapat dipertimbangkan pada nodul besar dan nyeri. Ekstraksi komedo atau prosedur berbasis perangkat dapat menjadi terapi tambahan pada kasus tertentu, tetapi tidak menggantikan terapi farmakologis utama. Fokus utama dalam penanganan acne akan tergantung kondisi setiap orang. Pilihan untuk acne dengan inflamasi bisa dilakukan untuk suntik jerawat, beberapa kondisi bisa dilakukan juga dengan peeling acne, VIP light, laser, dan beberapa kondisi bekas jerawat tertentu bisa dikombinasi dengan treatment DNA Salmon dan Exxosome.

Pasien sebaiknya menghindari memencet jerawat, scrub kasar, over-exfoliation, penggunaan terlalu banyak bahan aktif, serta produk yang terlalu oklusif atau komedogenik. Perawatan dasar meliputi gentle cleanser, moisturizer non-comedogenic, dan sunscreen broad-spectrum untuk menjaga skin barrier.

Evaluasi Setelah Treatment

Respons terapi idealnya dievaluasi dalam 8-12 minggu, dengan review pada 12 minggu sebagai salah satu rekomendasi NICE. Evaluasi meliputi jumlah lesi baru, inflamasi, komedo, efek samping, kepatuhan, PIH, dan perkembangan scar.

Jika respons baik, terapi dapat dilanjutkan dan dipertimbangkan maintenance therapy untuk mencegah kekambuhan. Jika respons tidak memadai, perlu dievaluasi kembali diagnosis, kepatuhan, teknik penggunaan obat, faktor pemicu, serta kemungkinan eskalasi terapi atau rujukan.

Acne merupakan penyakit inflamasi multifaktorial yang membutuhkan terapi individual berdasarkan derajat acne, karakteristik pasien, risiko scar, dan respons terapi. Penanganan yang optimal mencakup kontrol acne aktif, pencegahan scar dan pigmentasi, pemeliharaan skin barrier, serta terapi maintenance jangka panjang.

Referensi

  • American Academy of Dermatology Association. Guidelines of care for the management of acne vulgaris. J Am Acad Dermatol. 2024.
  • National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Acne vulgaris: management (NG198). Published 2021; updated 2026.
  • Dréno B, et al. From pathogenesis of acne vulgaris to anti-acne agents. Arch Dermatol Res. 2019;311:337-349.
  • Del Rosso JQ, et al. The primary role of sebum in the pathophysiology of acne vulgaris and its therapeutic relevance in acne management. J Dermatolog Treat. 2024;35(1):2296855.
  • Dréno B, et al. Recent advances in understanding Cutibacterium acnes in acne. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2019.

← Kembali ke Insight

Diskusi

Komentar & Pertanyaan

Bagikan komentar atau pertanyaan Anda tentang artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *